KH. MOCH. CHUDLORI IRFAN
*Tim sejarah Taras*
Siapa di antara guru yang pernah belajar di Bahrul Ulum ini yang tidak mengenal KH. Chudlori Irfan, lelaki ‘sepuh’ yang akrab di panggil Yai Dlori ? Sebab hampir semua alumni yang kini mengajar di Bahrul Ulum pernah menjadi muridnya. Padahal sebagian di antaranya sudah bercucu. Bisa di bayangkan berapa puluh tahun Yai dlori berprofesi sebagai guru. Di saat rekan seangkatannya banyak yang sudah kembali pada sang pencipta, Yai Dlori masih setia menjalani profesinya kendati harus dipapah. Suaranya pun masih terdengar lantang, ‘hayoo. Sing durung ngapalno, utang...’ Kalimat itu terdengar sangat khas selama beberapa generasi. Dan selalu ada yang tidak membayarnya sampai saat sowan tiba, dimana para santri mangakhiri masa pendidikannya. Dengan demikian tidak akan ada pertemuan dikelas lagi dengan beliau. Biasanya di antara wejangannya, guru besar ini memberi kesempatan pada para santri yang punya ‘hutang’ untuk meminta maaf dan mohon dibebaskan dari kewajiban membayar.
Lahir di desa Dempok, Tembelang, Yai Dlori merupakan sosok yang istiqomah dan konsisten dalam menjalin tugas mengajar, Debutnya di mulai sejak menerima permintaan KH. Abdul Fattah Hasyim untuk mengajar di madrasah setelah beliau lulus dari almamaternya. Permintaan gurunya ini jelas tidak bisa ditolak. Sejak saat itu, sekitar akhir tahun 40-an Yai Dlori dikenal sebagai biang mata pelajaran Manthiq dan Balaghoh.

sejenak rehat bersama sang istri Nyai Hj Shulhah
Putra pasangan Bapak Irfan dan Ibu Rufi’ah yang asli Jombang ini, melalui masa belajarnya di Rejoso Peterongan Jombang selama 3 tahun, sebelum meneruskan di Tambakberas sampai kelas 5 MI dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tebuireng jombang. Diantara para gurunya selain KH. Fattah adalah Bapak Syahril Denanyar, KH. Abdul Jalil dan KH. Abdul Hamid yang menggemblengnya dalam pengajian di pondok. Diantara teman sekelasnya yang berjumlah 8 orang kala itu, pria yang pernah menjabat sebagai kepala KAMTIB BU ini tergolong murid yang tekun dan tidak pernah bolos jika tidak ada persoalan yang betul-betul penting.
Suami dari ibu Sulhah asal Tembelang ini berputra sembilan orang, setelah pernikahan sebelumnya tidak membuahkan seorang anak kendati usia pernikahannya sudah 10 tahun berjalan. Menunaikan ibadah haji diusia 63 tahun pada 1987 silam, Kyai yang selalu mengendarai sepeda motor jika mengajar ini, sekali lagi menunjukkan kerendahan hatinya meskipun sudah menyandang predikat haji. Betapa tidak, disaat jamaah lain dijemput rombongan bermobil, Yai Dlori malah naik becak dari terminal Jombang..., memang saat itu terjadi kesalahan informasi, sehingga kepulangan beliau terjadi sehari lebih awal. Namun setidaknya prilaku sederhana ini menjadi oase ditengah hingar bingarnya kehidupan. Sesederhana itu pula nasehat yang penuh bobot nilai yang sering disampaikannya kepada para santri, “lek nduwe ilmu, amalno yoo..., pokok e mulango.. Sebab wong mulang iku senajan arang dilakoni tapi oleh ganjaran....