Keluarga besar pesantren Assa'idiyah Bahrul Ulum malam ini (2/12) memperingati Haul KH. Achmad Nasrulloh Abdur Rohim ke 16. Rangkaian Haul dimulai sejak pagi dengan khotmil quran oleh para alumni, Tahlil dan kemudian dilanjut reuni alumni Assa'idiyyah, sedang malam hari acara di isi pengajian haul dan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW oleh Kiai Ma'ruf Islamuddin dari Sragen.
"Belajar dari perjalanan panjang kiai Nasrulloh, kita seperti belum ada apa-apanya, karena kiai Nasrulloh adalah kiai yang inovatif dan kreatif" Drs KH. Hasan, mengawali sambutan atas nama keluarga. Sementara, Gus Wafi, atas nama ketua yayasan melanjutkan apa yang disampaikan oleh kiai Hasan, "Kiai Nasrulloh karena kretifitas dan penuh inovasi, maka di tahun 1982, beliau diberi amanah oleh kiai Najib Wahab membuat kurikulum khusus santri yang mondok pasca lulus SMP dan SMA, yang akhirnya berdirilah Sekolah Persiapan Muallimin (SP-MMA) dengan kurikulum hasil inovasi kiai Nasrulloh"
Sekilas jejak langkah Kiai Nasrulloh.
Kiai Nasrulloh, lahir tahun 1935, anak ketiga dari KH. Abdur Rohim Chasbulloh dan Nyai Mas Wardiyah asal Yogyakarta. Masa kecil kiai Nasrul (sapaan akrab beliau) dihabiskan di Tambakberas sambil sekolah di Madrasah Ibtidaiyyah. Saat awal masuk sekolah, ketika usia beliau sekitar 7 tahun, abah beliau meninggal dunia. Menginjak usia 13 tahun, beliau mulai melanglang buana mencari ilmu ke berbagai pesantren. Kiai pertama yang menjadi jujugan kiai Nasrul adalah kiai Ma'shum dari desa Laren Bumiayu Brebes. Beliau memulai mahligai rumah tangga pada tahun 1957 dengan Ny Zubaidah putri KH. Sulaiman Qosim asal Keboan, kecamatan Kudu Jombang

Kiai Nasrulloh Abdur Rohim
Kiai Nasrul memang tidak banyak cerita, dimana dan kemana saja beliau mencari ilmu selama masa petualangannya. Bahkan, dalam hal ilmu yang paling digemari dan didalami, tidak banyak orang tahu. Tetapi anehnya, kiai Nasrul mahir berbahasa arab dan belanda, ilmu kejadukannya juga sudah teruji, beliau juga mampu mengurai dan menjelaskan secara detail isi kitab Tafsir Jalalain dan Durrotun Nasikhin, kitab yang menjadi rutinan ngaji beliau setelah jamaah mahgrib dan subuh.
"Kamahiran abah di berbagai bidang ilmu, sebagian beliau dapat secara otodidak dari keluarga Jogja, khusus bahasa arab dan belanda, di Jogja beliau rutin berkomunikasi menggunakan dua bahasa tersebut, bahkan karena potensi penguasaan bahasa yang baik, pada tahun 1982, beliau pernah dikirim menjadi peserta short Course 2 bulan di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, dimana pemateri dan pendampingnya langsung dari Al-Azhar Mesir" cerita Ning Sa'adatul Atiyah putri beliau. "Sementara, ilmu politik dan ilmu kanuragan, sakti mandraguna yang dimiliki abah bersumber dari pamanya sekaligus idolanya, yaitu mbah Wahab Chasbulloh, cerita ibu seperti itu" lanjutnya.
Selain kesibukan mengajar di madrasah dan mengaji kitab kuning di pondok, Kiai Nasrul juga aktif diberbagai oraganisasi. Tercatat beliau sebagai pendiri Madrasah Ibtidaiyyah di Keboan, masuk dalam jajaran Syuriyah PWNU Jatim, aktif di partai Golkar dan pernah menjadi anggota dewan legislatif kabupaten Jombang dua periode pada tahun 1986, pernah menjabat kepala Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum, mendirikan Sekolah Persiapan Muallimin (SP MMA) tahun 1982, sekaligus sebagai nahkoda madrasah hingga beliau wafat 16 tahun yang lalu, 2 Juni 2002, dan beliau juga sempat mengarang kitab Attibyan Fi Tafsiri Ayatil Ahkam yang hingga kini masih terus jadi rujukan kajian dan penelitian berbagai universitas. (Az)